Rabu, 23 Mei 2018
AKULTURASI BUDAYA HINDU-BUDHA DAN ISLAM
Akulturasi Kebudayaan Hindu Budha di Nusantara
Hasil akulrusasi antara kebudayaan hindu-budha di nusantara atau Indonesia bisa terlihat dari sisi seni bangunannya, seni rupa / ukir, seni pertunjukan, sastra, sistem kepercayaan, sistem pemerintahan, dan bidang arsitektur pda bangunannya. Berikut ini adalah merupakan hasil daripada akulturasi kebudayaan hindu-budha dengan kebudayaan yang ada di nusantara atau Indonesia.
1. Akulturasi Hindu Buddha di Bidang Seni Bangunan
Dalam seni bangunan yang bisa kita lihat adalah bangunan candi. Bangunan-bangunan tersebut dalah merupakan salah satu bentuk akulturasi kebudayaan hindu-budha dengan budaya yang ada di Indonesia atau asli nusantara. Bangunan nan megah, patung dewa-dewa, serta bagian bangunan sekitar candi yang bernuansa India (hindu-budha). Pada hakikatnya, jenis-jenis candi yang berada di Indonesia masuk kategori Punden berundak-undak yang merupakan unsur asli Indonesia. Salah satu contohnya yang bisa kita lihat dan sangat terkenal adalah candi Borobudur. Candi borobudur termasuk salah satu bentuk dari pada akulturasi kebudayaan hindu-budha di nusantara atau Indonesia.
2. Akulturasi Hindu Buddha di Bidang Seni Rupa dan Seni Ukir
Dalam bidang seni rupa dan seni ukir, peran budaya India (hindu budha) sangat berpengaruh sekali. Hal ini bisa kita lihat dari karya-karya mereka seperti yang ada pada relief-relief ataupun seni ukir yang terukir pada bagian dinding-dinding candi. Seperi sontohnya, relief yang dipahatkan pada dinding-dinding pagar langkan di Candi Borobudur yang berupa pahatan riwayat Sang Buddha. Disekitar Sang Buddha terdapat lingkungan alam Indonesia seperti rumah panggung dan burung merpati.
Pada relief kala makara pada candi dibuat sangat indah. Hiasan relief kala makara, dasarnya adalah motif binatang dan tumbuh-tumbuhan. Hal semacam ini sudah dikenal sejak masa sebelum Hindu. Binatang-binatang itu dipandang suci, maka sering diabadikan dengan cara di lukis.
3. Akulturasi Hindu Buddha di Bidang Seni Pertunjukan
Gamelan merupakan salah satu diantara seni pertunjukan asli yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sebelum masuknya unsur-unsur budaya India (hindu buddha). Kita ambil contoh disini seperti seni pertunjukan seni wayang kulit. Selama waktu berabadabad seni pertunjukan wayang juga mengalami perkembangan dengan masuknya unsur-unsur budaya baru baik dalam bentuk maupun kualitasnya.
4. Akulturasi Hindu Buddha di Bidang Seni Sastra dan Aksara
Budaya India (hindu-budha) membawa pengaruh bagi dunia seni sastra di Indonesia. Senis sastra pada masa itu ada yang berbentuk prosa dan berbentuk puisi (tembang), yang kemudian bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu tutur (keagamaan), kitab hukum, dan wiracarita (kepahlawanan).
Salah satu yang sangat terkenal di Indonesia adalah wiracarita, seperti kitab Ramayana dan Mahabrata, yang kemudian timbul lagi wiracarita hasil gubahan dari para pujangga-pujangga Indonesia, seperti Baratayuda oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, dan juga munculnya cerita-cerita karangan lainnya.
Perkembangan seni sastra yang sangat cepat didukung oleh penggunaan huruf pallawa, misalnya dalam karya-karya sastra Jawa Kuno. Pada prasasti-prasasti yang ditemukan terdapat unsur India dengan unsur budaya Indonesia, misalnya ada prasasti dengan huruf Nagari (India) dan huruf Bali Kuno (Indonesia).
5. Akulturasi Hindu Buddha di Bidang Sistem Kepercayaan
Sebelum masa aksara ataupun masa hindu-budha, sebagian orang di Indonesia sudah mempercayai kehidupan setalah mati. mereka menyakini bahwa orang yang sudah mati tersebut rohnya akan melanjutan perjalanan ketempat tujuan yang membahagiakan, yaitu alam baka. Sebagai bentuk rasa hormat kepada orang yang sudah meninggal, mereka memasukkan benda-benda didalam kuburan orang yang meninggal dengan filosofis ataupun maksud tertentu. Dan mereka percaya bahwa mereka masih bisa berkomunikasi dengan ruh ruh nenek moyang mereka yang sudah meninggal. Inilah yang d
Akulturasi Kebudayaan Islam Di Nusantara
Agama dan budaya Islam yang masuk ke Indonesia mempengaruhi kebudayan asli Indonesia sehingga menimbulkan akulturasi kebudayan sehingga lahirlah corak baru kebudayan Indonesia. Akulturasi tersebut dapat dilihat dari berbagai bidang berikut ini.
a. Seni Bangunan
1. Masjid
Dilihat dari segi arsitektuknya, masjid-masjid kuno di Indonesia menampakan gaya arsitektur asli Indonesia dengan ciri-ciri sebagai berikut.
Atapnya bertingkat/tumpang dan ada puncaknya (mustaka).
Pondasinya kuat dan agak tinggi.
Ada serambi di depan atau di samping.
Ada kolam/parit di bagian depan atau samping.
Gaya arsitektur bangunan yang mendapat pengaruh Islam ialah sebagai berikut:
hiasan kaligrafi;
kubah;
bentuk masjid.
Adapun bangunan masjid kuno yang beratap tumpang, antara lain sebagai berikut
1. Masjid beratap tumpang, antara lain sebagai berikut.
Masjid Agung Cirebon dibangun pada abad ke-16.
Masjid Angke, Tambora dan Marunda di Jakarta dibangun pada abad ke-18.
Masjid Katangka di Sulawesi Selatan dibangun pada abad ke-17.
2. Masjid beratap tumpang tiga, antara lain sebagai berikut.
Masjid Agung Demak dibangun pada abad ke-16.
Masjid Baiturahman di Aceh, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, yakni pada abad ke-17.
Masjid Jepara
Masjid Ternate
3. Masjid beratap tumpang lima ialah Masjid Banten yang dibangun pada abad ke-17.
b. Makam
Makam khususnya untuk para raja bentuknya seperti istana disamakan dengan orangnya yang dilengkapi dengan keluarga, pembesar, dan pengiring terdekat. Budaya asli Indonesia terlihat pada gugusan cungkup yang dikelompokkan menurut hubungan keluarga. Pengaruh budaya Islam terlihat pada huruf dan bahasa Arab, misalnya Makam Puteri Suwari di Leran (Gresik) dan Makam Sendang Dhuwur di atas bukit (Tuban).
c. Seni Rupa dan Aksara
Akulturasi bidang seni rupa terlihat pada seni kaligrafi atau seni khot, yaitu seni yang memadukan antara seni lukis dan seni ukir dengan menggunakan huruf Arab yang indah dan penulisannya bersumber pada ayat-ayat
suci Al Qur'an dan Hadit. Adapun fungsi seni kaligrafi adalah untuk motif batik, hiasan pada masjid-masjid, keramik, keris, nisan, hiasan pada mimbar dan sebagainya.
d. Seni Sastra
Seni sastra Indonesia di zaman Islam banyak terpengaruh dari sastra Persia. Di Sumatra, misalnya menghasilkan karya sastrayang berisi pedoman-pedoman hidup, seperti cerita Amir Hamzah, Bayan Budiman dan 1001 Malam. Di samping itu juga mendapat pengaruh Hindu, seperti Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Sri Rama. Cerita Panji pada zaman Kediri (Hindu) muncul lagi dalam bentuk Islam, seperti Hikayat Panji Semirang. Hasil seni sastra, antara lain sebagai berikut.
Suluk, yaitu kitab yang membentangkan ajaran tasawuf. Contohnya ialah Suluk Wujil, Suluk Sukarsa, dan Suluk Malang Sumirang. Karya sastra yang dekat dengan suluk ialah primbon yang isinya bercorak kegaiban dan ramalan penentuan hari baik dan buruk, pemberian makna kepada sesuatu kejadian dan sebagainya.
Hikayat, yakni saduran cerita wayang.
Babad, ialah hikayat yang berisi sejarah. Misalnya Babad Tanah Jawi isinya sejarah Pulau Jawa, Babad Giyanti tentang pembagian Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta dan sebagainya.
Kitab-kitab lain yang berisi ajaran moral dan tuntunan hidup, seperti Tajus Salatin dan Bustan us Salatin.
e. Sistem Kalender
Pada zaman Khalifah Umar bin Khatab ditetapkan kalender Islam dengan perhitungan atas dasar peredaran bulan yang disebut tahun Hijriah. Tahun 1 Hijrah (H) bertepatan dengan tahun 622 M. Sementara itu, di Indonesiapada saat yang sama telah menggunakan perhitungan tahun Saka (S) yang didasarkan atas peredaran matahari. Tahun 1 Saka bertepatan dengan tahun 78 M. Pada tahun 1633 M, Sultan Agung raja terbesar Mataram menetapkan berlakuknya tahun Jawa (tahun Nusantara) atas dasar perhitungan bulan ( 1 tahun =354 hari). Dengan masuknya Islam maka muncul sistem kalender Islam dengan menggunakan nama-nama bulan, seperti Muharram (bulan Jawa; Sura).
Nama: Dhiva Muslikhatul Hasanah
Kelas: X-6
Absen: 13
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar